Sosok ustad yang satu ini cukup
mengundang perhatian banyak orang. Dengan gaya dakwahnya yang khas. Tidak
seperti ustad lain yang berdakwah menggunakan dalil dalil, beliau memilih
menggunakan logika sesuai realita kehidupan sehari hari.
Pertama muncul dengan “sedekah”nya,
langsung disambut dengan banyak kontroversi. Tidak sedikit ustad lain yang
kontra atau tidak sepaham dengan ustad Yusuf Mansur dengan ajaran sedekah yang
bisa menyelesaikan masalah. Tentu ini bukan tidak berdasar, pasalnya ustad yang
lain paham betul kalau ibadah itu harus ikhlas. Sedangkan ustad YM (panggilan
akrab Yusuf Mansur) mengajarkan kalo mau selesai masalahnya ya sedekah. Jadi
kesan yang timbul sedekahnya tidak ikhlas. Tapi saya tidak ingin membahas
tentang kontroversi ini karena sudah dijawab oleh ustad YM dengan bukunya yang
berjudul “BOLEH GAK SIH NGAREP?”.
Saya lebih tertarik untuk
ngomongin Ustad Yusuf Mansur yang “licik”. Mungkin banyak orang atau jamaah
yang mengikuti kajiannya tidak menyadari betapa ‘licik’nya ustad yang satu ini.
Pada awal dakwahnya beliau selalu
mengajarkan sedekah. Pingin punya anak,bisnis, melunasi hutang, semuanya selalu
diberi solusi dengan jalan sedekah. Setelah semua itu berjalan ustad YM lalu
menambahkan baca surat Al Waqiah. Pingin lepas dari kemiskinan baca Al Waqiah
ba’da subuh dan ashar. Pingin menyelesaikan masalah baca Waqi’ah.
Tapi lihat setelah jamaah
berbondong bondong membaca surat Al Waqi’ah dan sedekah.