Pembaca yang terhormat, sebelumnya saya mau minta maaf jika judul yang saya pilih seringkali bikin sewot hingga ada yang mengira saya zionis.
Kali ini saya memilih tema YUSUF MANSUR USTAD "PELIT". Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini saya mohon kesepakatan dulu tentang istilah "pelit" dengan cara menjawab pertanyaan saya berikut ini. Kalau ada seorang anak minta sepatu atau barang kebutuhannya yang lain dan orang tuanya mampu membelikannya tapi tidak dibelikan apakah itu pelit? Jika ada seorang teman minta tolong pinjam/minta uang untuk menebus ijasahnya dikampus dan dia mampu tapi tidak memberikannya apakah itu pelit? Kalau ada seorang ayah yang anaknya sakit parah tapi tidak membawa anaknya ke dokter tapi malah menggunakan uangnya untuk hal lain apakah itu pelit?
Jika semua pertanyaan tadi anda jawab "Ya" silahkan anda teruskan untuk membaca artikel ini. Tapi jika jawabannya "Tidak". Saya sarankan cukup sampai disini anda membaca karna anda bisa kecewa
.
.
Saya sengaja menanyakan tiga hal tadi karena itulah yang dilakukan ustad YM kepada anak dan teman temannya. Anak pertama ustad YM sampai tidak mau lagi minta pada sang ayah karena sudah tahu jawabannya. Dan bukan cuma "pelit" tapi juga ngajarin "pelit". Saat seorang teman menelfon bahwa dia sedang dalam perjalanan kerumah sakit karena anaknya sakit parah ustad YM malah menyuruhnya pulang dan tidak meneruskan perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan uangnya digunakan untuk hal yang lain. Itu yang saya maksud ngajarin pelit.
Pelit yang dilakukan ustad YM memang menyakitkan bila kita cuma sekilas pandang. Tapi kalau kita ikuti terus ternyata ini adalah pelit yang indah. Karena dengan pelit ini kita diajarkan ketauhidan. Dimana kita bisa belajar untuk hanya berharap kepada Allah. Seringkali kita begitu mudah mengatakan kita beriman. Tapi saat butuh sesuatu mintanya ke manusia. Disini ustad YM mengajarkan dengan contoh langsung bahwa meminta itu hanya pada Allah. Bukan pada manusia meski dia ustad sekalipun. Menciptakan kondisi bahwa meminta memang hanya pada-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawabi
Wallahu a’lam bish-shawabi
0 komentar :
Posting Komentar